Lokakarya Pokjanal DBD Tingkat Kota Salatiga Tahun 2019

Plumpungan Sekda – Dalam upaya pengendalian kasus DBD di Kota Salatiga, Dinas Kesehatan menyelenggarakan Lokakarya Pokjanal DBD Tingkat Kota Salatiga Tahun 2019 pada Kamis 31 Januari 2019. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 85 Pokjanal DBD Kota Salatiga yang terdiri atas Kelurahan, Kecamatan, Puskesmas, Rumah Sakit, TP PKK, Lintas Sektor dan OPD terkait. Narasumber kegiatan ini Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Siti Zuraidah, SKM, M.Kes dan Riyani Setiyaningsih, S.Si,M.Si, Aryani Pujiyanti, SKM, MPH, Dhian Prastowo, S.Si dari B2P2VRP.

Acara dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra, Dra. Gati Setiti, M.Hum yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyakit DBD merupakan emerging disease yang mana penyakit tersebut cepat menyebar dan terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Angka kasus DBD di Salatiga selama 5 tahun terakhir ini mengalami fluktuasi yaitu naik turun. Namun secara keseluruhan, angka DBD cenderung meningkat.

Penyakit DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan vektor DBD yaitu nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Secara morfologis bentuk kedua nyamuk tersebut sama, hanya yang membedakan adalah gambar dikepala. Ae. Aegypti berbentuk seperti celurit, sedangkan Ae. Albopictus berbentuk garis putih lurus.

Kedua nyamuk tersebut biasa berkembang biak di genangan air bersih lingkungan rumah. Telur nyamuk Ae. Aegypti dan Ae. Albopictus dapat bertahan dalam kondisi kering hingga 6 bulan bahkan 1 tahun. Apabila terkena air hujan akan dapat menetas dalam waktu 2-3 hari. Sedangkan jentik nyamuk Ae. Aegypti dapat bertahan dalam volume air yang minim sekalipun, misalkan di sela-sela/lubang pada bak mandi. Selain berkembang biak pada tempat yang bersih, Ae. Aegypti dan Ae Albopictus juga dapat berkembang biak di tempat penampungan air yang bersentuhan langsung dengan tanah, misalnya sumur.

Salah satu langkah untuk dapat mencegah DBD adalah memutus mata rantai perkembangbiakan vektor DBD sebagaimana yang disampaikan Dra. Gati Setiti, M.Hum bahwa cara yang paling efektif dan strategis untuk mencegah dan menanggulangi DBD adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan Gerakan Satu Rumah Satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik), serta memaksimalkan peran Pokjanal DBD sebagai ujung tombak pemberantasan DBD di Kota Salatiga.

Harapannya lokakarya ini dapat menjalin koordinasi lintas sektor dan mampu menggerakkan potensi masyarakat untuk menanggulangi DBD. Sehingga dapat meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) Kota Salatiga dan menurunkan angka kasus DBD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *