Penguatan Kapasitas SDM dalam penatalaksanaan GHPR

Graha Bhineka Husada – Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala seperti nyeri pada bekas luka gigitan, takut air, angin, cahaya dan suara keras. Rabies perlu mendapatkan perhatian karena angka kematiannya 100%, belum ditemukan obatnya dan berpotensi menjadi “re emerging disease”.

Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) harus mendapatkan penanganan yang cepat, tepat dan sesuai standar. Untuk itu diperlukan penyegaran dan peningkatan pengetahuan petugas medis terkait penatalaksanaan GHPR.

Dalam upaya meningkatkan kapasitas SDM dalam penatalaksanaan GHPR sekaligus mendukung target Indonesia bebas rabies 2020, DKK Salatiga mengadakan kegiatan Penguatan Kapasitas SDM dalam Diagnosa dan Tata Laksana Kasus Rabies (GHPR) di Kota Salatiga, di Graha Bhineka Husada RSUD Salatiga, Selasa(23/07/2019).

Secara simbolis, kegiatan dibuka oleh Kabid P2P, Junaedi, S.Kep, Ners, M.Kes. Kegiatan ini dihadiri sebanyak 55 orang yang terdiri atas dokter, perawat, bidan, pengelola program GHPR Rumah Sakit, Puskesmas dan Klinik se-Kota Salatiga serta organisasi profesi terkait (IDI,PPNI,IBI). Hadir sebagai narasumber Junaedi, S.Kep, Ners, M.Kes (DKK Salatiga), dr. Dani Redono, Sp.PD (RS Dr. Moewardi), drh. Slamet Kasiran, SKH (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov Jateng), dan Peni Setyowati, SKM,M.Kes (Dinkesprov Jateng).

Pada tahun 1997 Jawa Tengah telah dinyatakan bebas rabies, meskipun demikian Jawa Tengah masih berpotensi terkena rabies. Untuk itu diperlukan kewaspadaan guna mempertahankan Jawa Tengah bebas rabies.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan SDM dan menyatukan persepsi petugas Fasyankes tentang faktor resiko penularan rabies serta diagnosa dan tata laksana kasus GHPR.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *