Workshop peningkatan pemanfaatan obat asli Indonesia

Tawangmangu – Dalam rangka peningkatan pemanfaatan obat asli Indonesia, DKK Salatiga mengadakan Workshop Obat Tradisional di B2P2TOOT Tawangmangu, Senin (10/02/2020). Peserta sejumlah 60 orang yang terdiri dari Pejabat Struktural, Pemegang Program Kefarmasian, dan Pemengang program Kestrad DKK Salatiga serta Kepala Puskesmas, Pengelola Program Kestrad, Penanggung Jawab Kefarmasian, Tenaga Teknis Kefarmasian Puskesmas se-Kota Salatiga dan KPM.

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala DKK Salatiga, Siti Zuraidah, SKM, M.Kes yang menyampaikan maksud kedatangan sekaligus apresiasi kepada B2P2TOOT. “Terimakasih atas ilmu pengetahuan yang diberikan, kedepannya akan kami buat inovasi kemudian dikembangkan dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua” Paparnya.

Acara dilanjutkan dengan materi tentang Pemanfaatan Tanaman Obat / Obat Tradisional yang disampaikan oleh Tofan Aries Mana, S.Farm, Apt dari B2P2TOOT. Pada sesi ini dibuka kesempatan untuk tanya jawab.

Selanjutnya peserta dibagi dibagi atas 3 kelompok yang akan mengunjungi berbagai fasilitas yang ada di B2P2TOOT, antara lain Kebun tanaman obat, Museum Jamu Hortus Medicus, Rumah Kaca Adaptasi dan Pelestarian Obat, dan Etalase Tanaman Obat Indonesia. Selain itu diawal acara, seluruh peserta menyaksikan profil B2P2TOOT di Ruang Sinema Fitomedika.

B2P2TOOT merupakan Badan Penelitian dan Pengembangan bidang kesehatan mengenai pengetahuan tentang obat tradisional, mulai dari aspek legal hingga metode penelitian berbasis pelayanan yang telah dilakukan oleh Badan Litbang Kesehatan. B2P2TOOT terletak di Jl. Raya Lawu No 11, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

B2P2TOOT memiliki Klinik Saintifikasi Jamu yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Produk dari klinik saintifikasi jamu telah melalui pemeriksaan laboratorium bersertifikat ISO 9001:2008 sebagai jaminan sistem manajemen mutu sehingga data yang dihasilkan terjamin kebenarannya.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan peserta tentang potensi pemanfaatan tanaman obat bagi kesehatan sekaligus menjadi wacana agar tanaman obat tradisional dapat masuk kedalam formularium obat dan digunakan pada pelayanan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *