Dialog Interaktif dengan tema Kenali Penularan dan Pencehagan HIV menuju Ending AIDS 2030

Radio Suara Salatiga – Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia, Wahyu Hudoyoko, SKM.,M.PH Sub Koordinator Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Salatiga menjadi narasumber dialog interaktif dengan tema Kenali Penularan dan Pencehagan HIV menuju Ending AIDS 2030, di Radio Suara Salatiga, Selasa (17/12/2024).

AIDS merupakan sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena infeksi Virus HIV. Gejala yang ditimbulkan antara lain demam berkepanjangan, infeksi jamur di mulut, pembengkakan kelenjar di lipatan paha, lengan, dan leher, berat badan menurun drastis, terdapat bercak ungu di kulit dan diare berkepanjangan. Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga orang yang terinfeksi HIV mudah terinfeksi penyakit.

Ketika seseorang tertular HIV, pada 3-6 bulan pertama disebut periode jendela, pada fase ini sudah bisa menularkan virus HIV. Pada fase 3-10 tahun pengidap HIV masih terlihat sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa. Baru pada 1-2 tahun kemudian, mulai timbul gelaja AIDS ditandai dengan infeksi opportunistik yang tidak berbahaya bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh normal, namun dapat berakibat fatal bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Virus HIV dapat ditularkan melalui hubungan seks berganti-ganti pasangan tanpa pengaman, menggunakan alat suntik tidak steril secara bergantian, dan proses hamil, melahirkan serta menyusui. Untuk itu diwajibkan bagi ibu hamil untuk tes HIV, Sifilis dan Hepatitis melalui program ANC terpadu, yang dapat diperoleh di Puskesmas secara gratis. HIV tidak ditularkan melalui bersalaman, berpelukan, berenang bersama, makan bersama, gigitan nyamuk, dan memakai toilet bergantian.

Pengobatan ARV dapat membantu orang dengan HIV. ARV atau Antiretroviral adalah obat yang digunakan untuk menekan replikasi virus HIV dalam tubuh. Meskipun belum bisa menyembuhkan HIV sepenuhnya, ARV membantu menekan jumlah virus sehingga sistem kekebalan tubuh tetap kuat dan orang dengan HIV bisa hidup sehat dan produktif. Dengan pengobatan rutin, risiko penularan HIV ke pasangan atau anak pun bisa dikurangi hingga nyaris nol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *